
Suatu malam, seorang ibu bermimpi
dalam tidurnya. Dalam mimpinya dia melihat sekelompok merpati tengah
bercekrama. Tiba-tiba seekor merpati memisahk diri dari kelompoknya dan terbang
jauh ke awan dan menghilang. Paginya ibu itu bertanya pada ayahnya, apa maksud
arti dari mimpinya semalam. Sang ayah pun menjawab, kelak dia anaknya itu akan
memiliki beberapa orang anak, semuanya
laki-laki dan merpati putih yang terpisah itu anak perempuan satu-satunya, dan
kelak akan menjadi wanita yang shalihah.
Benarlah,
sang ibu memiliki beberapa anak laki-laki, satu orang ank perempuan. Anak gadinya
ternyata memiliki akhlaq yang sangat mulia sejak kecil. Sejak kecil, putrinya
tidak suka pakaian pendek, dia lebih menyukai busana panjang. Dan sebleum
sekolah, putrinya telah memakai jilbab jika keluar.
Saat meningkat
remaja, sang putri semakin menjaga pergaulannya. Dia lebih suka di dalam
kamarnya. Membca mushaf, bermunajat kepada Allah SWT. Saat remaja lain sibuk
menikmati masa remajanya dengan berhuru-hara, sang putri justru menghabiskan hari-harinya
dengan beribadah kepada Allah SWT.
Bahkan sang
ibu kadang merasa malu, karena tidak jarang sang putri mengingatkannya tentang
begitu banyak hal. Terutama dalam cara berpakaian sang ibu atau shalat dan
ibadah-ibadah yang lainnya. Dan sang putri mengatakannya dengan bahasa yang lemah
lembut dan menyentuh.
Dan bukan
hanya itu, kini sang putri merubah busananya dengan busana yang lebih rapat
dengan kerudung (jilbab) yang sangat lebar. Padahal putrinya sangatlah cantik,
namun tak banyak tau tentang keberadaannya. Hingga bila sang ibu sesekali
mengajaknya kepesta walimah, banyak orang yang terpesona dengan kecantikannya
dan bertanya siapa gerangan putri cantik itu pada sang ibu.
Suatu
hari, sang putri merasakan ngili dikakinya, namun sang putri menganggap itu
hanya keletihan biasa. Namun sekian lama, ngilu itu semakin merasa sakit. Sang ibu,
suatu saat memergokinya tengah meringis kesakitan. Sang putri lantas menenangkan
sang ibu, dan mengatakan itu hanya sakit biasa, karena letih.
Ternyata
semakin hari, kondisi sang putri semakin melemah, karena ngilu yang di
rasakannya kian hari kian terasa hebat, hingga sang putri tak mampu lagi
menutupi penderitaanya menahan rasa sakit. Kakinya pun kini sangat sulit dibuat
untuk melangkah. Akhirnya kedua orang tuanya membawa kerumah sakit, dan sang
gadis terpaksa di rawat disana.
Kaki sang
gadispun di rantgen. Dan hasilnya sungguh mengejutkan . Ternyata, sang putri
menderita kanker stadium empat. Seluruh keluarga terkejut, bahkan sang ibu
begitu shock mendengar kabar ini. Namun sang putri tetap harus deberi tahu,
karena sang dokter terpaksa mengamputasi kakinya , agar tidak melanjar ke
paru-paru.
Dengan sedih,
sang ibu memasuki kamar tempat sang putri dirawat. Kebetulan saat itu sang
putri tidak sedang tidur. Setelah mengecup kening sang putri, sang ibu sebentar
berbasa-basi dan akhirnya dengan penuh hati-hati dia menjelaskan semuanya pada
sang putri. Namun tanpa diduga, sang putri berkata, “alhamdulillh penyakit ini hanya merusak kakiku dan tidak merusak
agamaku.” Tentu semua yang ada
disitu jadi terhenyak dan terharu. Lantas sang gadis menangis kemudian
mengatakan bagaimana dia nanti menghadap Allah SWT. Dengan anggota tubuh yang
sudah tak lengkap? Subhanallah , sementara yang lain memikirkan bagaimana
hidupnya, sang putri malah memikirkan bagaimana matinya. Betapa malu sang ibu.
Namun akhirnya
kaki sang putri tetap diamputasi. Dan sang putri kembali kerumah dengan kursi
roda. Setelah itu, hari-hari sang putri banyak dihabiskan di dalam kamar,
karena dengan kondisinya yang demekian tak mungkin dia bisa melanjutkan
sekolah. Kian hari sang putri semakin pucat dan kurus. Ternyata kanker telah
terlanjur menyerang paru-parunya. Saat kondisinya semakin parah, tantenya
menjenguknya. Namun saat membuka pintu kamar, tiba-tiba sang tante menutupnya
kembali , dan wajah sangat pucat. Sang ibu yang penasaran lantas memasuki kamar
sang putri. Kamar dalam kondisi gelap, memang sejak pulang kerumah, sang putri
tak pernah menyalakan lampu kamarnya. Namun yang membuat sang ibu takjub, wajah
sang putri memancarkan cahaya terang, diantara kegelapan malam kamar.
Saat sang
putri menyadari kedatang ibunya, dengan penuh kasih sayang, ia menyapa sang
ibu, “kemarilah ibu… mendekatlah padaku.”
Sang ibupun menurut. Dia duduk dikursi yang terdapat di depan ranjang san
putri. “ibu boleh aku menciumpipimu?”
sang ibupun mendekati wajahnya dan sang putri mencium pipi kanannya. “boleh aku mencium pipi ibu yang satu lagi?”
kembali sang ibu mendekatkan wajahnya, dan kembali sang putri mencium pipi sang
ibu yang satu. Lantas sang putri memeluk ibundanya seraya berkata, “Terima kasih ibu.”
Setelah
terdiam sesaat, sang putri melepaskan pelukannya dan berkata kembali. “ Ibu, semalam aku bemimpi memakai gaun
pengantin,semua orang bergembira kecuali ibu. Dan aku merasa, bahwa itu
pertanda ajalku sudah dekat. Setelah kematianku, mereka semua kan melupakanku,
dan kembali hidup bahagia , kecuali ibu. Ibu akan selalu mengingat aku, dan
akan sedih bila tengah mengingatku. Ibu tak pernah melupakanku meski aku telh
mati.” Benar saja, saat kematiannya, bekas kamar sang putri tecium aroma
kesturi selama berhari-hari membuat sang ibu hampir tak kuat.
Karena khawatir
dengan kondisi sang ibu maka orang-orang menyemprotkan aroma wangi yang lain
pada kamar sang putri. Bahkan saat menulis kisah inipun, air mata sang ibu tak
terhenti mengalir. Benarlah, hanya sang ibu yang senantiasa mengingat sang
putri. Dantak pernah melupakannya, Merpati putihnya yang shalihah.
Ummu Asyrof
Maraji’:Islam agamku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar