"Jagalah Allah, Niscaya engkau akan bersamanya. Kenalilah Allah di waktu lapang, Niscaya dia mengenalimu di waktu susah."

Senin, 29 Desember 2014

Kelahiran Nabi Isa a.s. menurut injil



Ternyata tidak ada catatan sama sekali mengenai peringatan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. (dilatinkan: Jesus = Isa; Kristus

= Al-Masih) sampai abad ke-4 Masehi. Absennya perayaan Natal sebelum
itu menunjukkan bahwa mungkin tidak ada yang tahu secara pasti kapan
utusan Allah yang mulia itu lahir. Kitab-kitab Injil yang empat tidak
menyebutkan tahun kelahiran beliau, apalagi tanggal dan bulan yang
eksak. Clement (150-215), seorang uskup di Iskandariah, menetapkan
tanggal 18 November. Sebuah dokumen dari Afrika Utara tahun 243,
berjudul De Pascha Computus, menempatkan kelahiran Jesus Kristus pada tanggal 28 Maret di awal musim semi.



Umat Nasrani pada masa-masa awal tidak pernah tertarik untuk merayakan Natal, sebab mereka memandang suatu perayaan ulang tahun sebagai kebiasaan orang-orang kafir. Seorang tokoh gereja abad ke-3, Origenes, bahkan menyatakan bahwa adalah merupakan suatu dosa jika ada yang berusaha mencari-cari tanggal kelahiran Jesus, sebab hal itu berarti menyamakan Kristus dengan seorang Fir’aun! Injil yang paling tua, Injil Markus, yang ditulis sekitar tahun 50, memulai uraian dari kisah
pembaptisan Jesus Kristus yang sudah dewasa oleh Johannes Sang Pemandi (Nabi Yahya bin Zakaria a.s.). Fakta ini merupakan indikasi bahwa umat Nasrani pada masa-masa awal memang tidak memiliki interes terhadap masalah kelahiran Jesus. Baru pada Injil Matius dan Injil Lukas, yang ditulis dua sampai empat dasawarsa kemudian, kita memperoleh kisah lahirnya Nabi agung yang merupakan putra suci Siti Maryam r.a. itu.
Informasi paling awal mengenai perayaan Natal tercantum dalam Philocalian calendar, suatu dokumen Romawi tahun 354, yang menyatakan 25 Desember sebagai hari kelahiran Jesus Kristus. Dijelaskan dalam dokumen tersebut bahwa
tanggal itu ditetapkan oleh Uskup Liberius dari Roma, dan kemudian
diresmikan oleh Gereja. Pada mulanya banyak kalangan intern kepausan
yang tidak setuju dengan tanggal itu, sebab 25 Desember jatuh pada
musim dingin, di mana hampir mustahil ada penggembala di padang rumput Palestina pada malam hari seperti diberitakan Injil! Tetapi Gereja
sangat berkepentingan dengan tanggal 25 Desember, sebab penetapan
tanggal itu diharapkan efektif untuk memikat hati orang-orang kafir
Romawi yang mulai tertarik kepada ajaran Nasrani setelah Kaisar
Konstantinus (bertahta 306-337) memeluk agama tersebut. Tanggal 25
Desember adalah saat Natalis Solis Invicti (“Kelahiran Dewa
Matahari Yang Tak Terkalahkan”), yang dirayakan oleh orang-orang Romawi dalam bentuk Festival Saturnalia, untuk menghormati kelahiran Mithra, dewa matahari mereka, yang identik dengan Helios, dewa matahari Yunani.
Orang-orang Romawi memang berduyun-duyun memeluk agama Nasrani, tetapi Festival Saturnalia tanggal 25 Desember dilestarikan dalam bentuk
perayaan Natal.
Ketika agama Nasrani tersebar di kawasan Eropa Barat, perayaan Natal dilengkapi dengan “pohon Natal” (Christmas tree)
yang dipuja oleh bangsa-bangsa kafir Jerman dan Skandinavia. Bangsa
Inggris baru mengenal pohon Natal ketika Ratu Victoria menikahi
Pangeran Albert, yang membawa tradisi itu ke Inggris dari daerah
asalnya Jerman pada tahun 1840. Bagaimanakah dengan Santa Claus? Sudah tentu dia tidak pernah tinggal di Kutub Utara dengan rusa-rusanya
seperti mitos yang beredar di kalangan anak-anak umat Nasrani. Dia
adalah Saint Nicholas, uskup abad ke-4 di Nicaea (sekarang Iznik, masuk
wilayah Turki) yang gemar membagikan hadiah kepada anak-anak. Tradisi
ini populer di Negeri Belanda dengan sebutan San Nicolaas. Ketika
orang-orang Belanda berimigrasi ke Amerika—kota New York sekarang
adalah bikinan Belanda, dulu namanya New Amsterdam—mereka
memperkenalkan tradisi bagi-bagi hadiah dari San Nicolaas ini, yang
oleh lidah anak-anak Amerika diucapkan Santa Claus. Akhirnya pada tahun 1863, kartunis terkenal Thomas Nast menggubah lukisan Santa Claus dengan berpakaian merah dan berjanggut putih, lengkap dengan ketawa ‘ho-ho-ho’nya, yang populer sampai hari ini.
Kapan Isa Al-Masih (Jesus Kristus) lahir?
Pada masa Nabi Isa Al-Masih a.s. berlaku kalender Julian yang memulai perhitungan tahun dari 708 AUC (ab urbi condita),
yaitu 708 tahun sesudah pembangunan kota Roma, yang ditetapkan Julius Caesar sebagai tahun 1 Julian (tahun 46 SM menurut hitungan kita
sekarang). Injil Lukas 3:1 mengatakan bahwa Jesus memulai tugas
kerasulan pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius
Pilatus diangkat menjadi gubernur Judea. Tiberius bertahta dari tahun
60 Julian sampai 83 Julian (14-37 Masehi), sehingga kejadian yang
diceritakan Lukas itu berlangsung tahun 75 Julian (29 Masehi).
Informasi Lukas ini dijadikan dasar oleh Dionisius Exiguus, pejabat
tinggi kepausan di Roma pada abad ke-6, untuk menetapkan perhitungan
tahun Anno Domini (AD atau Masehi). Oleh karena menurut Lukas
3:23 usia Jesus saat itu “kira-kira 30 tahun”, maka Dionisius
memperkirakan Jesus lahir tahun 47 Julian, yang ditetapkannya sebagai
Tahun 1 Anno Domini, dan tahun ketika menetapkan itu, yaitu 572 Julian,
diganti angkanya menjadi 526 AD. Sejak tahun 526 kalender Julian—yang
pada tahun 1582 dikoreksi dengan dilompatkan 10 hari menjadi kalender
Gregorian—mulai memakai hitungan tahun Anno Domini (Masehi) yang
berlangsung sampai sekarang.
Tetapi benarkah Nabi Isa Al-Masih
a.s. lahir pada tahun 1 Masehi (47 Julian)? Tahun itu hanyalah
perkiraan Dionisius. Kenyataannya, baik Injil Lukas (1:5) maupun Injil
Matius (2:1) mencatat kelahiran Jesus pada masa Raja Herodes, yang
berarti antara tahun 37 SM dan 4 SM (10 sampai 43 Julian). Lukas 2:1-2
juga mengatakan bahwa Jesus lahir ketika gubernur Suriah Quirinius,
atas perintah Kaisar Augustus, mengadakan sensus penduduk di Palestina.
Sensus ini tentu berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 6 SM (41 Julian). Maka tidaklah jauh dari kebenaran jika kita memperkirakan Nabi Isa Al-Masih a.s. lahir pada sekitar tahun 5 SM (42 Julian), dan sudah jelas bukan tahun 1 Masehi sebagaimana perkiraan pencipta hitungan tarikh Masehi, Dionisius Exiguus.
Tanggal dan bulan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. tidak dapat dipastikan, sebab tidak ada informasi sama sekali mengenai hal itu. Tetapi kita dapat melakukan educated guess mengenai musim (season) ketika beliau lahir. Injil Lukas 2:8 mencatat suasana malam kelahiran Isa Al-Masih sebagai berikut: Et pastores erant in regione eadem vigilantes et custodientes vigilias noctis super gregem suum
(“Dan para gembala di padang rumput pada daerah itu sedang menjaga dan mengawasi pada waktu malam kawanan ternak mereka”). Ketika berkunjung ke Jerusalem, saya pernah bertanya kepada orang pribumi di sana:
kira-kira pada bulan apa para gembala tinggal di padang rumput sampai
malam hari? Dia menjawab bulan April atau bulan Mei pada musim semi (spring season).
Kitab Al-Qur’an pun menceritakan kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. dalam Surat Maryam, tetapi tidak dijelaskan kapan beliau lahir. Namun ada ayat yang memberikan indikasi bahwa Nabi Allah yang mulia itu lahir pada musim semi. Ketika Siti Maryam r.a. melahirkan putranya yang suci itu,
malaikat Jibril berkata kepadanya, sebagaimana tercantum dalam Surat
Maryam ayat 25: Wa huzzi ilaiki bi jidz`i n-nakhlah, tusaqith `alaiki ruthaban janiyya
(“Dan goyanglah ke arahmu pohon kurma itu, ia akan menjatuhkan kepadamu buah masak dan segar”). Jadi kelahiran Nabi Isa Al-Masih a.s. terjadi pada saat buah-buah kurma cukup ranum, sehingga akan berjatuhan jika pohonnya digoyang. Sampai sekarang di daerah Timur Tengah panen kurma berlangsung pada musim semi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar